23 November 2009

Sesaat Sebelum Berangkat Sekolah


Ada dua kebiasaan Kaka-Dede sebelum berangkat. Pertama, main truk di rumput depan rumah. Kedua, main boneka kesayangan. Dede main boneka guguk; Kaka main boneka kura-kura. Kedua kebiasaan ini biasanya dilakukan beberapa menit sebelum berangkat sekolah, ketika ayah dan mama sedang bersiap mengantar Kaka-Dede sekolah.

Setelah pakai seragam, sepatu lengkap dengan kaus kaki, dan bawa tas berisi bekal makanan dan pakaian ganti, Kaka-Dede biasanya keluar rumah duluan. Kalau tidak, mereka malah balik ke kamar mengambil boneka.

Apa yang Kaka-Dede lakukan? Mainan. Masih lumayan kalau boneka yang diajak mainan. Kalau truk yang biasa buat angkut pasir ato tanah? Hmm….



Kalau truk yang dipakai buat mainan, biasanya Kaka-Dede menarik tali truk tersebut. Lantas sesekali mengambil batu dan benda-benda lain untuk diangkut di bak truk. Ya, pastilah tangan jadi kotor. Untung keran air depan rumah mengalir, lha kalo pas lagi gak mengalir, kan mesti gendong lagi ke kamar mandi buat cuci tangan?

Kalau yang diajak mainan boneka, biasanya Kaka-Dede hanya ngobrol dengan boneka masing-masing. Kadang-kadang ngobrol dengan boneka lawan bicara. Ya, mirip sandiwara boneka, gitu. Nah, kalau ayah dan mama bilang sudah siap berangkat, biasanya Kaka-Dede menyuruh boneka guguk dan kura-kura bobok. Lantas Kaka-Dede pamit kepada boneka masing-masing bahwa Kaka-Dede akan berangkat ke sekolah.


19 November 2009

Tiga Bulan Absen

Tiga bulan absen. Lama banget ya? He... he... he....

Untunglah hari ini ada yang ngingetin. Ya, maaf deh. Cerita-cerita Kaka-Dede jadi gak terdokumentasi deh. Tapi mudah-mudahan mulai hari ini mo kembali ngisi blog ini. Skali lagi, maaf dan makasih buat yang dah ngingetin. Salam....

14 August 2009

Kawan Ayah dari Solo

Hari ini seorang kawan ayah dari Solo datang ke Semarang. Cuman singgah sejenak sih, soalnya keperluannya pun cuman berpamitan ke Balai Bahasa Jawa Tengah tempat beberapa mahasiswanya melakukan praktik kerja lapangan.

Terakhir kali singgah ke rumah Kaka-Dede adalah beberapa bulan lalu (lupa tepatnya). Ketika itu, Kaka-Dede masih malu-malu. Nah, kali ini beda. Begitu masuk rumah dan kasih salam, Kaka-Dede sudah menunjukkan tanda-tanda bisa diajak berkomunikasi.

Benar saja. Belum genap sepuluh menit, Kaka-Dede sudah terlihat nyaman berkelakar dengan kawan ayah. Ya, Kaka-Dede sudah mulai berani berkomunikasi dengan orang ”baru”. Melihat hal itu, mama dan ayah sengaja meninggalkan mereka, tetapi mengamati dari jarak agak jauh.

Kaka-Dede ”ngobrol” tentang banyak hal serta bercanda dan berlarian ke sana kemari. Salah satu hal yang diperbincangkan adalah soal sekolah Kaka-Dede. Dengan kata-kata yang tak karuan alias kacau. Kaka-Dede menjawab sebisanya jika ditanya tentang guru, sekolah, atau apa saja yang diajarkan di sekolah. Setelah itu, mereka bermain boneka. Berlarian di ruang tamu dan kamar Kaka-Dede hingga tiba waktu shalat Jumat, ketika ayah dan sang kawan pergi ke masjid.

Sementara ayah ke masjid, Kaka-Dede makan siang. Saat ayah pulang, Kaka-Dede sudah selesai makan. Kali ini Kaka-Dede berangkat tidur.

Pukul dua siang lebih sedikit ayah bersiap berangkat ke kantor, sekaligus mengantar sang teman ke halte bus jurusan Solo. Karena Kaka-Dede sedang tidur, ayah berangkat begitu saja. Nah, sekitar pukul 16.00 Dede bangun. Dia langsung mencari ayah dan Om Susan. Mama bilang bahwa ayah sudah berangkat ke kantor sekaligus mengantar Om Susan. Dede lantas tidur kembali berbaring di tempat tidurnya. Mama menghampiri dan bertanya, ”Dede mau bobo lagi?”

”Ayah gak ada?” kata Dede.

”Lho, ayah kan sudah berangkat ke kantor?” kata mama.

Dede terdiam.

”Dede mau bicara sama ayah? Ntar mama teleponin.”

”Mau.”

Mama lantas kirim pesan singkat ke ayah. Ayah balik telepon. Begitu ditanya, Dede cuman bilang, ”Dede minum susu.” Itu pun karena ditanya mama Dede lagi ngapain karena sebenarnya Dede sepertinya lagi malas ngobrol. Mungkin Dede marah atau kecewa.

13 August 2009

Ultah Ke-3 Kaka-Dede

Waduh, agak telat neh posting. Seharusnya blog ini dah diapdet dua hari lalu (ke mana aja selama ini?) Tapi gak papa deh. Lagian, cuman mo posting foto-foto pas ulang tahun ke-3 Kaka-Dede tanggal 11 Agustus 2009, tepatnya Selasa lalu. Ya, lumayan untuk dokumentasi. Oke, gitu aja. Gak ada yang lain kok. Salam….


Berdoa sambil melirik kue ulang tahun


Tiup lilin

Potong kue (tapi dah mencicipi dulu)

09 August 2009

Duduk, Abra Kadabra!!!

Ini ada kisah lucu dari Dede. Kelucuan yang tak dibuat-buat, sesuatu yang alami. Simak aja yuk!

Jumat (7 Agustus 2009) malam, sebelum tidur Mama bilang ke Dede, ”Yuk ke kamar mandi. Dede pipis dulu.”

”Dede gak mau pipis,” jawab Dede.

”Lho, kenapa? Ntar ngompol lho kalau gak pipis dulu?”

”Titit Dede gak berdiri. Titit Dede duduk,” kata Dede dengan serius.

Walah. Mama kontan tertawa mendengar pengakuan Dede: titit Dede duduk. Rupanya selama ini Dede selalu mengingat baik-baik pesan Mama: Tuh, titit Dede berdiri. Itu artinya Dede kebelet pipis. Nah, malam itu ketika Dede disuruh pipis sesaat sebelum berangkat tidur malam, dia menolak dan menjawab: Titit Dede gak berdiri, titit Dede duduk.

Beberapa hari sebelumnya, Dede juga bikin Mama ketawa. Begini kisahnya.

Ketika itu Dede dan Kaka lagi mandi. Nah, saat mandi itulah Dede pura-pura bermain sulap. Dengan pengucapan yang tak begitu jelas, Dede tiba-tiba bilang, ”Abra kadabra, hilang.”

”Ada apa, De?” tanya Mama.

”Sabun hilang,” jawab Dede.

Dede memang tak terlihat memegang sabun ketika itu. Namun, sesaat kemudian, Dede bilang, ”Abra kadabra, ada lagi.”

Wah ternyata Dede main sulap. Selama ini kan sering ayah main sulap di depan Kaka-Dede. Salah satu sulap yang sering dimainkan ayah adalah telapak tangan yang kosong tiba-tiba muncul kartu. Lantas kartu itu pura-pura dibuang atau diselipkan di belakang ayah lantas tiba-tiba seolah-olah kartu itu bisa dimunculkan dari belakang kepala Kaka atau Dede.

Nah, itu rupanya yang dimainkan Dede beberapa hari lalu saat mandi. Dede pegang sabun mandi (padat, bukan cair) dan dimasukkan ke dalam gayung yang diisi air hingga setengahnya. Sabun di dalam gayung berisi air itu diobok-obok sehingga busanya melimpah hingga memenuhi gayung. Ketika menghilangkan sabun, Dede cukup bilang abra kadabra sambil nyemplungin itu sabun ke gayung yang berisi air dan busa. Otomatis sabun tenggelam dan tak terlihat. Itulah cara Dede menghilangkan sabun dari pandangan.

Ketika ingin memunculkan itu sabun, Dede cukup bilang abra kadabra sembari mencelupkan tangan di gayung berisi air dan busa sabun. Dan… eng… ing… eng… sekarang di genggaman Dede terlihat sebatang sabun. Ya, begitulah. Ternyata Dede sudah bisa main sulap, meskipun hanya dari melihat. Padahal, ayah tak pernah mengajarinya main sulap berikut triknya, kecuali sekadar mempertunjukkannya kepada Kaka-Dede. Dede… Dede….